Manusia makhluk yang kompleks, gak bisa diduga. Dan gak bisa dibendung emosinya jika mengena apa yang dia suka atau tidak dia suka
Tapi kadang manusia bisa membendung emosi jika mereka mau.
Saya melihat status teman saya yang kata-katanya cukup kotor, dan sebenarnya saya tidak begitu heran karna memang sifatnya seperti itu.
Yang membuat manusia bisa memutuskan masih sama seperti dulu atau tidak, hanya dirinya sendiri.
Ya emang gitu semua sifat manusia, karna kebanyakan manusia merasa benar dengan sifat dan cara berpikirnya. Jadi kadang gak ada gunanya nasehatin orang yang bersifat keras.
Coba miliki sifat yang rendah hati, agar mau selalu dikoreksi. Itu yang saya pelajari dari kehidupan saya, yang selalu dikoreksi DIA.
Beberapa hari yang lalu DIA mengkoreksi hidup saya, dengan cara yang cukup sakit. Rasanya seperti akan berhenti melihat dan berhenti bernapas. Ya kurang lebih seperti itu rasanya, akhirnya saya mengerti betapa pentingnya menjaga baitNya. Bukan untuk menjadi sombong, tapi untuk menghargai bahwa saya pernah ada. Dan orang tua saya terlalu mencintai saya, sehingga mereka tidak marah dengan sakit konyol itu.
Kenapa sakit konyol? karna ini yang saya buat sendiri. Seharusnya tiap manusia bisa mengontrol semua keinginannya. Ya seharusnya seperti itu, jika mau sehat
Kamis, 09 Desember 2010
Rabu, 17 November 2010
new in november
beberapa yang baru di november
1. es krim magnum belgian chocolate, tapi berhubung gak suka es krim coklat.. ya jadi gak berniat mencoba
2. makan rawon,, ini salah satu makanan yang membuat berpikir ketika memakannya, karna dari sudut penampilan yang tidak menarik buat saya. Entahlah kenapa banyak orang merasa rawon itu enak. Akhirnya ditemani dengan tiga orang teman, saya mencoba memberanikan diri menyantap si rawon. Karna teman-teman saya meyakinkan bahwa rawon itu enak, rasanya gak manis kaya semur. Dan terlebih lagi karna temen-temen saya bilang, saya keseringan makan cordon bleu, ampe gak tau rasanya rawon. haha bukannya gitu, saya cuma gak suka makanan manis, nah karna saya kira rawon itu manis (mengingat tampilannya yang mirip semur), jadi males nyoba rawon.
Merasakan rawon satu sendok sudah membuat nafsu makan hilang, hemph maaf saya gak suka rawon, saya lebih suka soto mie
3. roti bakar keju. Kemaren saat terjebak kepadatan rayap di puncak, saya melihat plang "roti bakar". Entah kenapa juga, pengen makan roti bakar, hemph.. sayang rasanya gak enak. Ya udahlah daripada gak ada, jadi di habiskan.. demi menghargai uang yang keluar untuk membayar si roti bakar.
4. Nopia. Ini yang rasanya lumayan lucu, dibilang enak enggak. Dibilang enggak enak, juga enggak.
5. Coklat kiwi... Yiihaaaaa.. ini coklat yang paling enak ke dua yang pernah saya rasain. Rasanya pas, ada manis dan kiwinya.. Jadi gak bikin eneg :)
1. es krim magnum belgian chocolate, tapi berhubung gak suka es krim coklat.. ya jadi gak berniat mencoba
2. makan rawon,, ini salah satu makanan yang membuat berpikir ketika memakannya, karna dari sudut penampilan yang tidak menarik buat saya. Entahlah kenapa banyak orang merasa rawon itu enak. Akhirnya ditemani dengan tiga orang teman, saya mencoba memberanikan diri menyantap si rawon. Karna teman-teman saya meyakinkan bahwa rawon itu enak, rasanya gak manis kaya semur. Dan terlebih lagi karna temen-temen saya bilang, saya keseringan makan cordon bleu, ampe gak tau rasanya rawon. haha bukannya gitu, saya cuma gak suka makanan manis, nah karna saya kira rawon itu manis (mengingat tampilannya yang mirip semur), jadi males nyoba rawon.
Merasakan rawon satu sendok sudah membuat nafsu makan hilang, hemph maaf saya gak suka rawon, saya lebih suka soto mie
3. roti bakar keju. Kemaren saat terjebak kepadatan rayap di puncak, saya melihat plang "roti bakar". Entah kenapa juga, pengen makan roti bakar, hemph.. sayang rasanya gak enak. Ya udahlah daripada gak ada, jadi di habiskan.. demi menghargai uang yang keluar untuk membayar si roti bakar.
4. Nopia. Ini yang rasanya lumayan lucu, dibilang enak enggak. Dibilang enggak enak, juga enggak.
5. Coklat kiwi... Yiihaaaaa.. ini coklat yang paling enak ke dua yang pernah saya rasain. Rasanya pas, ada manis dan kiwinya.. Jadi gak bikin eneg :)
Selasa, 16 November 2010
Gurings
x: "Now I know."
y: "What do you know?"
x: "I was too stupid I loved him. I was too stupid that I believed what he'd always said. I should've known that guys tell bullshits."
y: "u don't." When someone leaves, doesn't mean there's something wrong with you. Maybe there's something wrong with him.
Love the ones who does care for your love, not the ones who just know you love them.
y: "What do you know?"
x: "I was too stupid I loved him. I was too stupid that I believed what he'd always said. I should've known that guys tell bullshits."
y: "u don't." When someone leaves, doesn't mean there's something wrong with you. Maybe there's something wrong with him.
Love the ones who does care for your love, not the ones who just know you love them.
Minggu, 14 November 2010
Delay doesnt mean denied
It means that, if you don't get your wish, God is probably still thinking it over.
Perempuan vs laki-laki

Perempuan sering dianggap remeh, suka atau tidak itu yang sering dilakukan kebanyakan laki-laki.
Lelaki menganggap remeh perempuan karna perempuan tidak bisa berkelahi, atau meninju seperti yang kebanyakan lelaki sering lakukan.
Tapi kenyataannya sekarang banyak perempuan yang sudah bisa ikut ajang tinju nasional. Kebanyakan lelaki melakukan hal-hal yang terlihat hebat, karna mereka dikaruniai fisik yang berbeda dengan perempuan.
Orang yang kuat adalah orang yang bisa melawan dirinya sendiri. Ya semua orang pasti setuju dengan kalimat diatas. Karna bisa saja seorang petinju seperti Mike Tyson mengalahkan seribu orang petinju, tapi belom tentu dia bisa mengalahkan dirinya sendiri
Perempuan sebenernya memiliki kekuatan yang lebih dari laki-laki.
Coba searching di google apakah ada bencong wanita? Pasti tidak ada.
Berapa presentase lelaki homoseksual dan berapa presentase wanita lesbian?
Menurut penelitian yang dilakukan, lebih benyak lelaki homo daripada wanita lesbian. Ini adalah sebuah masalah yang sebenarnya tidak disadari oleh kebanyakan wanita.
Ada beberapa wanita yang mau di madu atau dipoligami karna mendengar sebuah "berita" yang mengatakan jumlah lelaki lebih sedikit dibanding wanita.
Kenyataannya pada saat ini, justru jumlah lelaki yang lebih banyak dari wanita. silahkan diliat di sini terlihat jelas bahwa masih sangat banyak lelaki yang ada dibanding wanita. Tapi kenyataannya lelaki banyak yang tidak kuat "iman" sehingga berpindah haluan, dan menyukai sesama jenis.
Banyak yang berpendapat bahwa homoseks atau lesbian itu tidak bisa dipilih oleh manusia. Tapi jika ternyata pendapat itu benar, berarti Tuhan tidak ada.
Silahkan berpikir dengan jernih, jika manusia ditakdirkan untuk menjadi homoseks atau lesbian, berarti Tuhan tidak mempunyai otoritas atas manusia. Atau malah Tuhan memang tidak ada dalam hidup manusia.
Kenyataannya manusia diciptakan untuk berpasangan antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Dan Tuhan tidak pernah salah saat menciptakan hal itu.
Jika lelaki diciptakan untuk lelaki apakah mereka bisa saling melengkapi secara emosi, apakah mereka bisa menciptakan keluarga yang sejati dengan seorang anak?
Lelaki diciptakan untuk perempuan, dan perempuan diciptakan untuk lelaki. Tuhan tau akan beratnya pergumulan seorang lelaki jika dia hanya seorang diri, atau pergumulan seorang perempuan jika seorang diri terus di dunia ini. Maka dari itu Tuhan menciptakan lawan jenis untuk menyempurnakan kehidupan mereka.
Banyak orang suka salah kaprah dengan istilah "be your self", karna menjadi diri sendiri artinya harus menjadi sesuatu yang menyenangkan diri sendiri--ini menurut pengertian manusia di dunia ini. Menjadi diri sendiri bukan seperti itu saudara, menjadi diri sendiri artinya bisa mengekang nafsu diri sendiri yang kadang menyesatkan diri anda.
Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan buruk, jika anda lelaki maka cintailah seorang perempuan dengan cinta yang kudus. Dan jika anda perempuan cintailah seorang lelaki dengan kudus. Tapi pertama-tama, cintailah Tuhan dengan sempurna agar anda tahu mana yang menjadi hak anda
Jumat, 12 November 2010
Thank God for pain
Sometimes a very unexpected blessing can come out of pain - if we only look for it and see it for what it is. Thank you to Besty for this reminder!
Thank God for pain. I have thanked God for many, many blessings throughout my lifetime, but never for pain. Until now.
This particular pain began in February 2000. It was sharp, constant, on my left side, and the left side of my back. Little did I know it would be the life I would know for over two years.
I went to doctors, who did many tests and never found the true problem. Then, just a few months later, that pain would be accompanied by a high fever, nausea, vomiting two to three times a week, and would last for 3 months. More tests. Again, nothing was found, so one doctor decided it was all in my head. (I have found out that some doctors like to say that to a patient when they cannot figure out what is wrong).
Eventually, after 2 rounds of antibiotics that I had to practically beg, borrow and steal from this same skeptical doctor, I had no more pain, fever or nausea. For two more months, I would remain pain, fever and nausea free. Then it returned.
By this time, however, my husband, Dale, had developed more problems with one of his two blood diseases, eventually having to have chemotherapy (I have written for 2TheHeart about Dale's story) in 2001. My concentration remained focused on my husband's health, all the while, my sharp pain, occasional fever and nausea were ever present. Despite that, for the next several months, God, Dale's doctors and I would all work together to get him successfully into remission.
Still having pain this time last year, I had made a promise to Dale once he was in remission, that I would finally go back to the doctor. This time, a new doctor, who not only believed the problems I had were real, he immediately set me up with a local gastroenterologist. A colonoscopy was done, revealing Diverticulosis (the cause of the sharp pain, nausea, fever and vomiting, as it had become infected and turned into Diverticulitis). Having the mystery of the few years of intense pain and all other symptoms cleared up was a HUGE relief. However...
I had this colonoscopy for another reason...a reason that I could not have possibly known about, nor, until the procedure was done, could the doctor have known. For there amidst the Diverticulosis, were several polyps. The doctor was very surprised to find so many of them in someone my age (I was 37 at the time of the exam last year). The doctor removed and biopsied one large polyp and burned the rest. The biopsy revealed that the polyps were PRE-CANCEROUS. A follow-up appointment with the gastroenterologist confirmed that it was quite possible that in a year...approximately now...I could have indeed had full blown colon cancer. Had I not had the pain, I would not have had the immediate need for a colonoscopy. Had I not had the colonoscopy when I did, the pre-cancer would not have been found soon enough.
God works in mysterious ways, and I truly DO thank God for pain.
from someone
Thank God for pain. I have thanked God for many, many blessings throughout my lifetime, but never for pain. Until now.
This particular pain began in February 2000. It was sharp, constant, on my left side, and the left side of my back. Little did I know it would be the life I would know for over two years.
I went to doctors, who did many tests and never found the true problem. Then, just a few months later, that pain would be accompanied by a high fever, nausea, vomiting two to three times a week, and would last for 3 months. More tests. Again, nothing was found, so one doctor decided it was all in my head. (I have found out that some doctors like to say that to a patient when they cannot figure out what is wrong).
Eventually, after 2 rounds of antibiotics that I had to practically beg, borrow and steal from this same skeptical doctor, I had no more pain, fever or nausea. For two more months, I would remain pain, fever and nausea free. Then it returned.
By this time, however, my husband, Dale, had developed more problems with one of his two blood diseases, eventually having to have chemotherapy (I have written for 2TheHeart about Dale's story) in 2001. My concentration remained focused on my husband's health, all the while, my sharp pain, occasional fever and nausea were ever present. Despite that, for the next several months, God, Dale's doctors and I would all work together to get him successfully into remission.
Still having pain this time last year, I had made a promise to Dale once he was in remission, that I would finally go back to the doctor. This time, a new doctor, who not only believed the problems I had were real, he immediately set me up with a local gastroenterologist. A colonoscopy was done, revealing Diverticulosis (the cause of the sharp pain, nausea, fever and vomiting, as it had become infected and turned into Diverticulitis). Having the mystery of the few years of intense pain and all other symptoms cleared up was a HUGE relief. However...
I had this colonoscopy for another reason...a reason that I could not have possibly known about, nor, until the procedure was done, could the doctor have known. For there amidst the Diverticulosis, were several polyps. The doctor was very surprised to find so many of them in someone my age (I was 37 at the time of the exam last year). The doctor removed and biopsied one large polyp and burned the rest. The biopsy revealed that the polyps were PRE-CANCEROUS. A follow-up appointment with the gastroenterologist confirmed that it was quite possible that in a year...approximately now...I could have indeed had full blown colon cancer. Had I not had the pain, I would not have had the immediate need for a colonoscopy. Had I not had the colonoscopy when I did, the pre-cancer would not have been found soon enough.
God works in mysterious ways, and I truly DO thank God for pain.
from someone
Rabu, 10 November 2010
Dear romeo
Dear romeo.. hihi akyu gak tau kamyu akan baca apa nggak, tapi ya udahlah nothing to lose ajah
Romeo, aku suka kamu ketika kamu pake baju warna coklat. Yup, saat pertama kita bertemu di gereja
Aku tidak suka caramu melihat diriku selama 5 menit, bisa lebih cepet kan
Aku suka melihat senyumanmu
Aku suka caramu memandangku, dengan mencuri pandang ke arah diriku
Aku suka caramu mengajakku jalan, makan roti bakar, dan yang paling ku suka ketika kamu mengajakku ke gereja
Terlihat ada kembang api di matamu.. hehe aku tau kamu susah menemukan kata-kata tapi aku suka kata-katamu yang singkat saat mengajakku. Tidak dibuat-buat
Aku suka caramu menawarkan jacket jeans.
aku suka caramu menjawab pertanyaan yang sebenernya terlalu singkat jawabannya
Aku benar-benar merasa suka dan sudah ku utarakan..
Romeo, aku suka kamu ketika kamu pake baju warna coklat. Yup, saat pertama kita bertemu di gereja
Aku tidak suka caramu melihat diriku selama 5 menit, bisa lebih cepet kan
Aku suka melihat senyumanmu
Aku suka caramu memandangku, dengan mencuri pandang ke arah diriku
Aku suka caramu mengajakku jalan, makan roti bakar, dan yang paling ku suka ketika kamu mengajakku ke gereja
Terlihat ada kembang api di matamu.. hehe aku tau kamu susah menemukan kata-kata tapi aku suka kata-katamu yang singkat saat mengajakku. Tidak dibuat-buat
Aku suka caramu menawarkan jacket jeans.
aku suka caramu menjawab pertanyaan yang sebenernya terlalu singkat jawabannya
Aku benar-benar merasa suka dan sudah ku utarakan..
Langganan:
Postingan (Atom)